Bandung selalu punya cara untuk menceritakan kembali kisah Dilan, namun kali ini suasananya tak lagi sewarna merah muda. Memasuki era akhir 90-an, kita tidak lagi melihat remaja yang sibuk merayu di bawah lampu jalanan Buah Batu. Melalui platform LAYARKACA21, kita diperkenalkan pada sosok Dilan yang baru seorang mahasiswa FSRD ITB yang tengah bergulat dengan tugas akhir, idealisme yang membara, dan aroma gas air mata yang mulai menyesakkan udara kota kembang jelang 1998.
Dilan kini bukan lagi pemimpin geng motor yang urakan. Ia telah bertransformasi menjadi pemuda yang lebih kontemplatif, seorang mahasiswa seni yang mulai mempertanyakan arah bangsa. Rambutnya mungkin masih berantakan, namun pikirannya kini dipenuhi oleh narasi perubahan. Film ini dengan cerdik menangkap atmosfer mencekam di dalam kampus Ganesha, di mana diskusi-diskusi filsafat seni berbaur dengan orasi politik mahasiswa yang menuntut keadilan. Penonton akan diajak melihat bagaimana karakter ikonik ini mendewasa, membedah sisi psikologis seorang pria yang menyadari bahwa dunia ternyata jauh lebih luas dan lebih kejam daripada sekadar rivalitas antar sekolah.
Namun, inti dari “Dilan ITB 1997” tetaplah sebuah drama kemanusiaan yang intim. Kehidupan Dilan yang sudah stabil bersama Ancika perempuan cerdas dan tangguh yang mengisi masa kuliahnya mendadak diguncang oleh badai masa lalu. Sosok Milea kembali muncul membawa tumpukan memori yang belum sempat terangkut waktu. Di sinilah konflik mencapai puncaknya. Jika Anda menelusuri detail sinopsisnya di LAYAR KACA21, Anda akan menemukan bahwa ini bukan sekadar cinta segitiga biasa. Ini adalah pertarungan antara janji masa depan kepada Ancika dan kerinduan pada masa lalu bersama Milea, yang semuanya terjadi di tengah deru demonstrasi mahasiswa yang semakin tak terkendali.
Secara visual, film ini adalah sebuah mahakarya nostalgia. Penggambaran Bandung tahun 1997 dilakukan dengan sangat detail, mulai dari gaya berpakaian mahasiswa masa itu, kaset pita, hingga poster-poster protes yang artistik khas anak seni ITB. Musik latar yang melankolis namun megah turut membawa kita menyelami kebingungan Dilan Apakah ia harus setia pada cinta yang baru, atau menyerah pada magnet masa lalu yang begitu kuat? Dilan dipaksa untuk memilih, bukan hanya tentang siapa yang ia cintai, tetapi juga posisi apa yang ia ambil dalam sejarah besar Indonesia yang sedang bergejolak.
Kisah ini adalah pengingat bahwa setiap pertemuan memiliki musimnya, dan setiap perpisahan memiliki alasannya. Bagi Anda yang merindukan narasi puitis sekaligus heroik dari sang mantan panglima tempur, film ini adalah tontonan yang wajib masuk dalam daftar putar Anda. Segera saksikan bagaimana Dilan menentukan akhir dari pencarian hatinya hanya di KACA21. Jangan sampai terlewatkan momen-momen emosional yang akan mengaduk perasaan Anda, dan pastikan untuk selalu setia mengikuti perkembangan ceritanya. Jadi, tunggu apa lagi? Jangan lupa nonton di KACA21 sekarang juga!
